Wisata Religi Makam Gunung Kendeng
Jumat 20 Oktober 2017

Wates - Wisata religi untuk sekarang menjadi kegemaran bagi sebagian masyarakat yang ingin mendalami pengetahuan di bidang keagamaan. Tak hanya dalam bentuk tempat ibadah, wisata religi juga dapat berupa makam tokoh agama atau orang yang jaman dulu yang mempunyai gelar bangsawan atau berjasa didaerah tersebut.

Salah satu peninggalan tempat bersejarah berada di desa Wates, tepatnya Dukuh Mojo RT 02 RW 01, terdapat pemakaman yang berjuluk Gunung Kendeng. Asal muasal dari nama tersebut karena dari kejauhan gunung ini terlihat “kemendeng” atau seperti tertutup kabut yang diakibatkan sekumpulan asap atau kabut yang menutupinya. Di Gunung Kendeng ditempati beberapa makam salah satu makam yang dikeramatkan merupakan makam dari keturunan Keraton Yogyakarta dalam masa peperangan Pangeran Diponegoro yang bernama Yudhokusumo.

Warsidi atau yang akrab disapa Mbah Jayus yang merupakan juru kunci generasi ke empat daru juru kunci makam Gunung kendeng. Puluhan tahun Warisidi mengabdi membersihkan makam, menemani para peziarah berkunjung dan memimpin ritual-ritual yang diadakan pada saat hari tertentu. Salah satunya di hari Ba’da Mulud banyak warga berkunjung dengan niat berdoa supaya mendapatkan keberkahan atau membacakan yasin untuk para leluhur Makam Gunung Kendeng. Bila anda juga ingin berziarah menapaki tilas pejuang di jaman penjajahan anda bisa datang ke desa Wates.

Cerita lain menyebutkan bahwa Yudhokusumo merupakan keturunan jaman kerajaan Majapahit. Cerita mengenai asal usul kisah ini sendiri masih simpang siur karena dari cerita juru kunci dan warga luar yang pernah berziarah ke makam memberikan kesaksian berbeda. Umur makam tersebut bisa dilihat keranda yang berbahan balok kayu dengan ukiran bermotif zaman dahulu. Sayang kini kayu tersebut ada beberapa yang sudah keropos.

Dalam lingkungan tersebut, tak hanya makam Yudhokusumo juga terdapat beberapa makam lainnya yang terletak di sebelah kiri jalan sebelum anda menapaki makam Yudhokusumo. Warga setempat menyebutnya dengan makam ki Demang dan keturunannya.

Ki Demang menjadi salah satu tokoh berpengaruh di desa Wates. Menurut cerita masyarakat sekitar, Ki Demang yang menjadi pemimpin Desa Wates pada zaman penjajahan Belanda memberikan perlindungan dan menjamin keamanan desa-desa sekitar Desa Wates tersebut. Selain makam Ki Demang juga berjejer makam para keturunannya dari mulai anak sampai cucu yang ke semuanya lelaki karena memang lelaki saja yang berhak dimakamkan di lokasi tersebut. 

Berita Terkini